Visitor
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Reformasi
Tujuan Hidup dan Mengubah Sistem Menjadi Lebih Baik
----------------------------------------------------------
Berawal dari seorang rekan kuliah yang sedang bertanya-tanya pada saya, apakah tujuan hidup manusia? Orang-orang baik banyak yang mengatakan bahwa tujuan manusia hidup adalah: beribadah kepada sang pencipta, menjadikan dunia lebih baik, menjadi berguna untuk orang lain, memiliki keturunan yang banyak yang bisa meneruskan generasinya, memiliki teman sebanyak mungkin dan mempersedikit musuh, menolong orang lain, dan berbagai hal yang baik sejenisnya. Namun mungkin sebenarnya hanya dia sendiri yang bisa mencari dan mengetahuinya. Itulah pentingnya laku perihatin. Sebuah laku atau keputusan hidup untuk mengurangi segala kenyamanan yang dimilikinya hingga sedikit diatas nol, alias hidup dengan sumberdaya seminimum mungkin. Mengurangi tidur, mengurangi makan, mengurangi waktu luang, mengurangi bersenang-senang, mempersedikit berhubungan badan, dan lain sebagainya sebagai usaha untuk menebus keinginannya mendapatkan jati diri seorang manusia yang sebenarnya manusia.
Singkatnya, tidak salah memang apabila manusia berusaha dengan caranya sendiri untuk menemukan inti pemahaman dasar mengenai dirinya sendiri, namun berbagai cara tersebut akan jauh lebih efisien apabila seorang manusia memiliki guru yang bisa membimbingnya. Saya hanya tahu satu hal bahwa pada dasarnya semua manusia itu berhati sama: berusaha mencari sesuatu yang baik dan hidup dengan cara yang baik pula, karena bagaimanapun ruh manusia adalah saripati kebaikan dari yang maha suci, sedangkan badannyalah yang berasal dari materi alam semesta yang bagaimanapun harus tunduk pada hukum alam semesta yang kita huni sekarang.
Okey, kita mulai saja penjelasannya. Seperti halnya yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa alam semesta kita sekarang menganut persamaan termodinamika dasar yang menyatakan bahwa derajat kekacauan akan naik seiring dengan waktu yang berjalan ke satu arah (maju). Demikian pula dengan materi dasar penyusun badan manusia, bahwasanya badan dan seluruh sistem indrawi yang dapat dilakukan oleh manusia akan turut meluruh seiring dengan meluruhnya alam semesta ini. Pada akhirnya, seleksi alamiah tetap berlaku pula pada manusia. Dimulai dari badani kemudian masuk menuju ranah ruh. Ada yang menanggapinya dengan sabar untuk tetap berbuat baik, ada pula yang tidak mampu bersabar sehingga tidak peduli lagi dengan hakekat dasar manusia, hati patah arang dan menjadi gelap mata untuk memilih menjadi sesuatu yang jahat karena merasa semua usahanya sudah tidak lagi berarti. Kenyataannya, sedikit orang yang berbuat jahat karena faktor bawaan lahir. Adapun kelainan mental untuk berbuat jahat biasanya memang disebabkan kelainan genetik yang tidak lain merupakan bentuk spesifik dari sistem alam semesta yang memiliki entropi positif. Oleh karena itu sebagai dampaknya banyak sekali generasi baru di tanah air ini yang sering dibingungkan dengan polah bawa orang tuanya dan lingkungan pendahulunya. Seolah, generasi baru yang memiliki kesadaran tinggi ini tiba-tiba diterjunkan dalam lingkungan abstrak yang lebih mengutamakan buruk dan salah sebagai sebuah realitas dibandingkan denagan nilai-nilai luhur kebaikan sebagai idealisme tujuan hidup. Karena begitu sulitnya pilihan seseorang maka seringkali generasi baru nusantara tidak mampu mengubah apapun, hanya merasa banyak sakit hati dengan sistem yang ada sehingga pada akhirnya menyerah dan berusaha sebisanya. Ujung-ujungnya: tidak terjadi apapun.
Ada pepatah yang diajarkan seorang guru kepada saya. Mewujudkan sesuatu yang baik itu tidak hany amembutuhkan niat yang baik, tetapi membutuhkan prosedur yang benar pula. Banyak orang berniat baik tetapi terkadang hanya menggunakan cara asal-asalan untuk mewujudkan niat baiknya sehingga lebih sering sialnya daripada beruntungnya. Menurut hemat saya, cara yang baik adalah mencoba mengenali dan menguasai diri sendiri terlebih dahulu baru bekerjasama dengan orang-orang yang mampu membuat kita menjadi lebih baik, sambil terus menerus menimba ilmu dari para guru. itu adalah sebuah kutukan hidup bagi orang yang menginginkan sebuah kebaikan. Memang, sesuatu yang baik itu tidak pernah murah.
Langkah pertama dari menuju kebaikan adalah mengenali diri sendiri dan ikhlas terhadap dirinya dan lingkungannya, apapun adanya saat ini. Bagaimana caranya? sederhana. Dimulai dari ketenangan batin. Tenang yang terus menerus akan menciptakan sabar. sedangkan sabar yang terus menerus akan menciptakan ikhlas. sebuah ilmu tertinggi dalam kehidupan. Nah, masalahnya bagaimana mencapai sebuah ketenangan? perihatin jawabannya. Saya seringkali menanyakan kepada seseorang yang masih suka bingung. Mengapa kamu bingung? mengapa kamu bertanya? tentu saja jawabannya adalah "karena saya mencari jawaban". Lantas apa kalau manusia sudah menemukan jawaban hidup? jarang yang sering bertanya hingga demikian.
Okelah, akan saya jelaskan dengan kata-kata saya yang penuh keterbatasan ini. Manusia mencari jawaban karena menusia menginginkan ketenangan batin. Ketika manusia telah mendapatkan ketenangan batin, maka jawaban itu akan muncul dengan sendirinya. jawaban hanya sebuah media/sarana/lantaran untuk menenangkan batin manusia. Intinya, ketika manusia sudah memiliki ketenangan batin maka manusia tidak perlu lagi jawaban otomatis, manusia tidak memerlukan lagi bertanya dan mencari-cari sesuatu dalam hidupnya yang sebenarnya sudah ada pada hatinya sendiri, hanya saja jarang yang sadar. Kebanyakan manusia mengetahui bahwa ketenangan batin itu dicari dengan pengalaman, ilmu dan akan tumbuh seiring dengan umur. Mungkin benar untuk orang-orang biasa, namun premis tersebut sudah tidak lagi relevan dengan adanya generasi baru nusantara yang semakin memiliki kesadaran yang tinggi terhadap hakekat kehidupan. Bagi generasi baru yang telah berkesadaran, maka hanya berlaku satu hal: Ketenangan hidup harus di-create dan bukan ditemukan sejalan umur. Ketenangan hidup harus disintesis dari dalam batin dan merupakan bagian dari keputusan hidup, bukan "mencari dari alam" lagi. Ketenangan hidup merupakan landasan yang paling fundamental dalam mencari dan menemukan sosok manusia itu sendiri. Sehingga secara kasar: lakukan apapun yang manusia bisa untuk mendapatkan ketenangan hidup. Terimalah saja semua yang ada dalam hidupmu tanpa pertanyaan dan tanpa harapan apapun. apabila ada pertanyaan yang sulit, catat saja. Jawabannya akan ditemukan suatu saat di masa depan. Berusahalah tetap mengalir tapi tetap sadar dengan tiap fase kehidupan. Turunkan sumberdaya hidup serendah mungkin sambil tetap menjaga kesadaran hidup. Tujuannya hanya satu: menenangkan batin. Apabila hal tersebut terus dilakukan dengan sepenuh hati, maka niscaya lambat lambat laun jati diri manusia dan kesadaran akan mengendap dengan sendirinya. Dan semua yang ada dalam diri manusia akan lebih mudah dikendalikan. Jadikan ketenangan batin menjadi alasan terkuat untuk mencapai tujuan hidup. dengarkan panggilan alam dan tetapkanlah tujuan dengan dasar ketenangan batin tersebut. Apabila tujuan hidup dirasa menggebu-gebukan hati, maka tinggalkanlah. ganti dengan tujuan yang lain. coba terus hingga ditemukan tujuan hidup yang "gue banget" yang batin tidak berontak serta pikiran mengerti dengan benar bagaimana mencapainya dan mampu memanajemen seluruh resiko yang mungkin timbul atas ide keputusan tersebut. Itulah yang dinamakan tujuan hidup.
Tujuan hidup harus terus didoakan dan disempurnakan tiap kali manusia sadar atas kehidupan. Dalam mencapainya, ketenangan batin harus terus menerus diasah hingga menjadi sebuah kesabaran. Tujuan hidup yang benar (menurut saya pribadi) adalah tujuan hidup yang kita tidak memiliki kepentingan apapun didalamnya. tidak ada rasa menggebu, tidak ada pula rasa sedih, balas dendam, ingin keren, atau seluruh sifat2 duniawi manusia. Misal, tujuan hidup saya adalah ingin mengajarkan ilmu. Bukan karena saya senang, merasa berilmu, bahagia ketika melihat orang menjadi mengerti atau yang lainnya, melainkan karena itulah panggilan hati saya yang muncul setelah saya menenangkan batin. No complain, no over perception. Adapun sidat2 senang, bangga, dan lainnya, itu hanyalah sebagai pembenaran logika saya saja.
Nah, seringkali panggilan hidup seseorang generasi baru nusantara adalah mengubah sistem yang buruk menjadi sistem yang baik. Menyadarkan manusia sekelilingnya untuk melihat masa depan seperti yang dia lihat, seperti visinya di masa depan. Namun satu hal yang perlu disadari dan diperhatikan bahwa tidak semua orang mampu melihat masa depan sesuai dengan si pemilik visi. Itu sering sekali terjadi, bahkan pada saya sendiri di kehidupan sehari-hari. Tetap tenang dan berusaha memaklumi orang lain adalah langkah pertama penanganannya.
Lantas bagaimana apabila selama apapun kit amenyarakan visi, tetapi orang-orang di sekitar kita tetep ndableg alias ngeyel terhadap visi kita? padahal visi ini sangat baik untuk mereka? apa yang salah dengan visi saya? Hmmm,, menarik sekali, namun saya hanya bisa mengatakan: hijrahlah. Berpindah. Karena anda tidak berada pada lingkungan yang tepat. Setidak-tidaknya buatlah jaringan/kenalan dengan orang-orang yang sependapat dengan anda. Tanpa harus menunjukkan jati diri anda yang lain terhadap lingkungan sekitar. Meleburlah menjadi satu dengan lingkungan tanpa harus mengorbankan jati diri, alias menyamarlah menyerupai lingkungan, namun berpindahlah (pikiranmu) untuk bekerjasama dan saling mengenal dengan orang-orang yang sama-sama ingin mengubah sistem. Jangan pernah frontal mengubah sistem sendirian, atau sama saja dengan bunuh diri. Nusantara yang baik hanya akan dibesarkan oleh para pengubah sistem -yaitu para generasi baru- yang terorganisasi dan bersaudara. Ini bukan ngajarin yang aneh-aneh lho,, hanya maksud saya berusahalah untuk berteman dan saling mengenal dengan kawan yang tepat, yaitu para generasi pengubah sistem agar indonesia kita menjadi lebih baik. Tidak amburadul seperti ini. Kedaulatan negara terancam, Islam garis keras semena-mena, adu domba antar kaum beragama, sogok-menyogok buat jadi pimpinan, main dukun penglarisan, wah pokoknya kacau semua bangsa kita kalau terus menerus seperti ini. Yang kita sisakan untuk anak cucu hanyalah sisa-sisa kehancuran yang dibuat oleh para pendahulunya. Ngenes banget kalau itu yang bakal terjadi pad aanak cucu kita. Naudzubillah.
semoga tulisan singkat ini bermanfaat, disini saya hanya ingin menyampaikan bahwa sekuat apapun, sepintar apapun manusia tidak pernah mampu bisa hidup sendiri. Berusahalah untuk bijaksana. Terkadang pilihan yang salah harus kita ambil untuk mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar. Jadilah pemimpin yang memiliki local wisdom yang tinggi. Pemimpin nusantara yang arif bijaksana, memiliki banyak kawan, mampu melebur dengan rakyat serta selalu fleksibel dalam perbedaan namun tiap tujuannya selalu dapat dicapai tepat waktu. Selalu laku perihatin, mendekatkan diri dengan sang pencipta dan mendapat petunjuk tanpa tedeng aling-aling dan nggak sakkarepe wudele dhewe.
Sebagai penutup, bagaimanapun kata-kata memang tidak bisa memindahkan rasa. Sebagai catatan, aksara < kata < citra < rasa. Semakin ke kanan semakin susah untuk dipindahkan, padahal sebuah ilmu harus meliputi pemindahan semua komponen tersebut. Tulisan/simbol/aksara adalah yang paling rendah efisiensinya untuk menyampaikan informasi, sedangkan rasa/feeling adalah yang tertinggi namun paling sulit dipindahkan. Bagaimana mengatakan sebuah rasa pedas kepada anak kecil yang belum pernah memakan cabai? Maka itulah pentingnya guru, yaitu untuk mengajarkan hakekat melalui empat media diatas. Semoga anda bertemu guru yang benar, yang mampu menjelaskan jauh lebih baik dan lebih memuaskan daripada saya.
Maturnuwun.
Klenik
Hari ini saya ingin membahas tentang pengalaman saya mengenai klenik. Kebanyakan orang menganggap bahwa klenik merupakan suatu ritual gaib dimana dalam hukum islam pasti dijatuhi syirik. Apakah benar demikian?
Klenik & Syirik
Baiklah, berikut penjelasan menurut persepsi saya. Syirik bagi saya adalah menyekutukan gusti Allah baik menduakannya, menigakannya, dan sebagainya. Bahkan syirik yang paling parah adalah mengganti gusti Allah dengan sesuatu yang lain. Sekarang bandingkanlah dengan klenik. Klenik adalah suatu ritual dogmatis yang tidak terlogika untuk menghormati sesuatu yang lebih besar daripada manusia; kekuatan alam atau sejenisnya. Terkadang kerancuan dalam memahami hal ini kerap menimbulkan tindakan anarkis oleh segolongan masyarakat agama bergaris keras untuk membenarkan polah tingkah yang mengatasnamakan kebenaran dalam melibas perbuatan anggota masyarakat lain yang dianggap tidak sesuai dengan aturan kebenaran menurut logika mereka. Semua agama di dunia dan/atau kepercayaan pasti memiliki klenik karena klenik adalah jalan untuk berkomunikasi dengan sesuatu yang menguasai/lebih besar daripada manusia. Klenik adalah bahasa yang terwujud dalam tata cara untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta/kekuatan yang lebih besar daripada manusia.
Dalam bahasa tersimpan makna. Adapun makna yang disampaikan oleh seseorang yang telah mengetahui suatu fenomena (merasakan sensasi fenomena) akan sangat terbatas apabila dijabarkan dalam kata-kata. Bahasa adalah matematika sedangkan fakta adalah statistika. Matematika dan statistika sendiri bagaimanapun adalah alat fisik yang penuh keterbatasan dalam mengungkapkan makna. Adapun menurut tata cara yang lebih saya anggap benar dalam menyampaikan informasi adalah menggunakan kenyataan umum bahwa sesuatu hal akan dapat disampaikan secara sempurna hanya apabila orang lain yang sedang kita ajak berkomunikasi setidaknya pernah merasakan sensasi (pengalaman merasakan) tentang hal yang sama dengan apa yang kita alami. Sehingga pada akhirnya, bahasa fisik menjadi sebuah bentuk formalitas dari bahasa hati yang telah menyatu sebelumnya. Seperti halnya bahasa cinta, manusia mampu mengetahui tanpa harus mengatakannya. Adapun perkataan hanya berfungsi sebagai formalitas saja.
Kembali lagi ke klenik. Menurut apa yang saya alami, klenik adalah ungkapan bahasa melalui perbuatan yang pada esensinya disampaikan dari generasi ke generasi melalui bahasa hati. Namun akibat adanya keterbatasan intepretasi baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan batin dari para pendahulunya ke generasi setelahnya, maka bahasa hati untuk berkomunikasi dengan tuhan/sesuatu yang lebih besar daripada manusia tersebut berpotensi besar untuk berubah menjadi sesuatu hal yang bersifat dogmatis permanen akibat pemahaman mandiri tanpa penjelasan melalui bahasa hati. Saya percaya bahwa panggilan hati untuk meyakini sang pencipta sebenarnya ada dalam diri manusia sejak manusia terlahir ke dalam bumi, asalkan manusia bersedia untuk mengesampingkan imajinasi logika dan lebih memilih bahasa hati. Para pendahulu, dimana mereka hidup lebih prihatin daripada generasi setelahnya memiliki standar kemampuan batin untuk berkomunikasi dengan penciptanya/kekuatan diluar mereka. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat sejarah manusia bahwa tidak terdapat satupun koloni manusia yang tidak memiliki peninggalan bangunan/peralatan artifisial untuk memuja dan menghormati tuhan/sesuatu diluar manusia.
Akibat adanya perbedaan keprihatinan itulah maka muncul kapasitas batin yang makin menurun dari generasi ke generasi, dimana kemampuan tersebut semakin ditumpulkan dengan manusia yang saling berlomba-lomba dalam mengasah logika. Saya tidak akan mengatakan itu salah, hanya mungkin saja itulah takdir manusia saat ini. Sehingga akibat dikesampingkannya hati, manusia banyak yang stres karena keterbatasan akalnya dalam memahami fenomena dan tuntutan dunia.
Menurut pemahaman yang telah saya dapatkan hingga saat ini, klenik -dalam agama atau kepercayaan apapun- tidak harus berasosiasi dengan syirik. Kenapa? karena kita tidak pernah mengetahui isi hati dan niat seorang manusia. Dengan ilmu setinggi apapun, seorang manusia hanya akan mampu melihat dan mengetahui badan fisik, keadaan dan parameter-parameter fisis lain, namun tidak dengan isi hati. Bukankah tuhan yang berkehendak mutlak dalam mengatur benar dan salah, atau baik dan buruk? Yang salah adalah yang tidak memikirkan tuhan lebih jauh dan hanya mengikuti mekanisme klenik sesuai yang terlihat dengan pancaindera dan didefinisikan lebih lanjut menggunakan logika sebagai mesin pemroses dari informasi-informasi mengenai pengalaman hidup yang dia dapatkan sebelumnya. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mampu membaca pikiran orang lain, berpindah sukma ke tempat lain, bahkan ada yang mampu diberi anugerah mengetahui secara detail bagaimana masa lalu seseorang hanya dari berjabat tangan. Nama lengkapnya, ibunya, masa kecilnya, semuanya. Saya pernah bertemu dengan seseorang jenisu yang bisa mengkalkulasi dengan kecepatan supertinggi dan lain sebagainya. Namun yang saya pahami, tidak ada diantara mereka yang mampu menebak niat dan isi hati seseorang. Bahkan bagi si pembaca pikiran sekalipun. Dari situ saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa niat dan batin beserta semua gejolaknya adalah hak prerogatif dan privat bagi setiap jiwa. Manusia bisa merasakan 'adanya' kondisi batin tertentu dari seseorang dengan hati juga, namun tidak dengan 'bagaimana' dan 'sensasinya'. Bathin adalah hubungan langsung antara manusia dengan tuhan, yang hanya bisa ditularkan informasinya ke orang lain melalui bahasa batin pula. Itu pun tidak akan pernah mampu menggambarkan sensasinya.
Dari sinilah kesalahan pemindahan 'sensasi'/informasi terjadi dari generasi ke generasi. Ketika pemindahan informasi terjadi dari para generasi tua ke generasi muda, maka kenerasi muda yang kurang perihatin hanya akan mampu menangkap sedikit makna batin dari generasi tua, sehingga terjadilah penambahan yang dilakukan menggunakan ekstrapolasi dan interpolasi imajinasi logis. Sehingga selain dari prosedur yang semakin kacau maka terjadi pula entropi (kekacauan) dalam memahami. Timbullah dogma.
Logika vs. Kepercayaan
Agama apapun (aturan; kode; hukum; metode; ritual; klenik) pada dasarnya tidak pernah salah apabila tidak ditambah dengan imajinasi rasio serta kemampuan batin yang identik antar generasi ketika terjadi perguliran pemahaman. Hal ini disebabkan karena semua manusia memiliki bathin sebagai instrumen untuk mengenali tuhannya/kepercayaan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, sehingga secara otomatis manusia pasti mengenalinya melalui perwujudan niat dan pengendapan dalam bathin. Saya percaya bahwa seseorang yang telah berpikir dan berusaha keras untuk bertemu dengan tuhan/sesuatu yang lebih besar darinya telah mengambil tindakan yang baik dan benar terlepas dari takdir kepercayaan yang akan dipeluknya kelak. Semua manusia yang telah menempuh perjalanan mencari tuhan/sesuatu yang lebih besar darinya dengan sungguh-sungguh pasti akan mengalami sensasi yang identik dan akan mengerti tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata logis bahwa tuhan itu ada dalam persepsi komunal yang sama, sehingga klenik dan perbedaan agama merupakah hal yang lumrah dalam usaha mendekatkan diri ke sang pencipta. Adapun yang benar-benar salah menurut saya adalah seseorang yang hanya ikut-ikutan; tidak pernah berpikir serta mencari keuntungan dengan memanfaatkan efek chaos lingkungan menggunakan prinsip untung-untungan (coba-coba) dan hanya menggunakan pemahaman logis berdasar persepsi dirinya sendiri/komunitas lokal yang terisolir.
Logika
Nah, apa itu logika? menurut saya logika tidak lebih dari imajinasi rasio yang bertindak dengan nilai probabilistik dengan mekanisme abadi pengolahan sebuah informasi menjadi informasi lain yang tidak pernah akan diketahui hakekatnya. Saya sendiri sebagai seorang fisikawan ingin mengutarakan bahwa tindakan untuk menjustifikasi apa yang benar menurut alat ukur, kebiasaan dan pengalaman manusia sejak kecil adalah apa yang sesungguhnya terjadi merupakan sebuah kesalahan persepsi fundamental. Misalnya; apabila handphone anda digeser sampai ujung meja maka logikanya, handphone tersebut akan jatuh karena adanya interaksi gravitasi. Adapun bagi saya, akan lebih bijaksana apabila kita mengatakan bahwa handphone tersebut kemungkinan besar akan jatuh (dengan kondisi ceteris paribus; alias keadaan disekitar handphone terkendali dan kejadian tersebut dijalankan sesuai skenario umum). Kenapa kemungkinan besar? karena memang kenyataan yang saya temui mengindikasikan bahwa hukum-hukum fisika tidak pernah berlaku universal. Di daerah sulawesi, ada pembangunan mesjid yang mustoko (kepala mesjid)nya diangkat menggunakan do'a. Atau genting terbang di atap rumah yang sering ditemui warga gunung kidul, atau benda/seseorang yang melayang hanya berpijak kepasrahan total terhadap tuhan, sapu yang digantung bergerak-gerak sendiri, dan masih banyak sekali pengalaman empiris saya yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan logika hukum fisika. Dan hal tersebut tidak akan pernah dimengerti apabila seseorang hanya menggunakan logika dan belum pernah merasakan sensasinya. Walaupun kebenaran tidak terletak dalam sensasi empiris, namun bagaimanapun sepanjang perjalanan hidup yang telah saya tempuh, sensasi empiris baik fisik maupun batin merupakan sumber informasi yang lebih tinggi derajat kebenarannya daripada dilandaskan atas logika.
Logika hanya akan saling memakan. Mungkin di satu tempat dan waktu yang terisolasi, dogma logika menjadi kepercayaan umum yang dianggap universal. Hal itu tidak akan mampu dibantah, karena apabila dibantah (anti tesa) maka akan muncul sebuah sintesa baru yang menghasilkan tesa yang lebih tinggi. Akhirnya antara tesa dan antitesa hanya akan saling bekejar-kejaran secara abadi layaknya seekor anjing yang berputar-putar ingin menggigit ekornya. Seperti pula pertanyaan sederhana; duluan mana, ayam apa telur? atau manusia itu hasil evolusi atau diciptakan dari ketiadaan? kira-kira hanya mainan jebakan seperti itu yang akan kita dapatkan. Kadang malah muncul fenomena paradoks yang sering membuat batin tidak pernah tenang.
Agama adalah jalan, bukan tujuan.
Kepercayaan merupakan bentuk komunikasi yang terletak pada bathin setiap insan, sedangkan kebenaran (menurut definisi modern) adalah relasi imajinatif dari fakta empiris (kejadian nyata) yang didasarkan atas nilai-nilai logis, yang semuanya terletak dalam akal. Dalam kenyataan di masyarakat, sebanyak apapun fakta, apabila seseorang tidak pernah percaya ya tetaplah tidak percaya; demikian sebaliknya, apabila seseorang terlebih dahulu meyakini sesuatu, maka sesedikit apapun fakta pastilah akan diterima dengan hati seluas samudera. Sehingga bagi saya, percaya adalah lebih tinggi derajatnya daripada benar. Kepercayaan terhadap tuhan hanya bisa diidentifikasi menggunakan bahasa bathin, dan tidak mungkin ditemukan dalam bahasa logika, sehingga muncul perwujudan yang bermacam-macam dalam persepsi kepercayaan yang sama. Dan itulah yang paling baik dan benar. Lantas, seperti halnya mengidentifikasi mengenai keberadaan tuhan, logika digunakan setelah kita percaya, bukan sebaliknya. Logika adalah powerful tools apabila kita mampu menggunakannya dengan baik setelah kita mampu berdamai dengan hati. Dan dari situlah muncul agama. Agama adalah jalan logis (klenik) untuk menapak langkah kepercayaan dalam batin dan bukan tujuan akhir. Tuhanlah tujuan akhir seorang manusia. Sehingga, adalah sebuah perbuatan yang tidak baik dan tidak benar apabila seseorang/sebuah kelompok menjustifikasi kegiatan klenik dari seseorang/masyarakat dan menyatakan orang yang dipersepsikan memiliki pendapat berbeda dengannya adalah syirik dengan asumsi logika karena manusia tidak pernah mengetahui niat dan isi hati manusia lain.
Dari apa yang telah kita bahas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pencari tuhan itu berbeda dengan pencari kebenaran. Tuhan adalah kepercayaan. Dan untuk mengetahui jalan menuju tuhan (apapun agama anda, hanya kebetulan saja saya memilih islam), semua manusia membutuhkan guru. Bukan untuk menjustifikasi mana yang baik dan benar atau sebaliknya, namun untuk membimbing generasi setelahnya dalam merasakan sensasi yang sama (atau lebih tinggi) dalam menempuh jalan kepercayaan. Selebihnya, merupakan hak eksklusif seorang manusia untuk mengitepretasikan sensasi tersebut menjadi sesuatu yang baik dan benar atau jelek dan salah. Hanya tuhan yang lebih mengetahui apa itu benar dan salah. Siapa tahu, setelah seseorang merasakan sensasinya dalam menuju jalan kepercayaan, itu pun baru kulit karena ilmu yang diturunkan kepada manusia hanya seperti tetesan air yang dihadapkan dengan luasnya samudera, baik ilmu fisik maupun gaib. Tapi setidaknya manusia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengerti. Well, Who's know. Sisanya serahkan saja terhadap yang telah menyusun takdir untuk kita. Betul? :)
Klenik & Syirik
Baiklah, berikut penjelasan menurut persepsi saya. Syirik bagi saya adalah menyekutukan gusti Allah baik menduakannya, menigakannya, dan sebagainya. Bahkan syirik yang paling parah adalah mengganti gusti Allah dengan sesuatu yang lain. Sekarang bandingkanlah dengan klenik. Klenik adalah suatu ritual dogmatis yang tidak terlogika untuk menghormati sesuatu yang lebih besar daripada manusia; kekuatan alam atau sejenisnya. Terkadang kerancuan dalam memahami hal ini kerap menimbulkan tindakan anarkis oleh segolongan masyarakat agama bergaris keras untuk membenarkan polah tingkah yang mengatasnamakan kebenaran dalam melibas perbuatan anggota masyarakat lain yang dianggap tidak sesuai dengan aturan kebenaran menurut logika mereka. Semua agama di dunia dan/atau kepercayaan pasti memiliki klenik karena klenik adalah jalan untuk berkomunikasi dengan sesuatu yang menguasai/lebih besar daripada manusia. Klenik adalah bahasa yang terwujud dalam tata cara untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta/kekuatan yang lebih besar daripada manusia.
Dalam bahasa tersimpan makna. Adapun makna yang disampaikan oleh seseorang yang telah mengetahui suatu fenomena (merasakan sensasi fenomena) akan sangat terbatas apabila dijabarkan dalam kata-kata. Bahasa adalah matematika sedangkan fakta adalah statistika. Matematika dan statistika sendiri bagaimanapun adalah alat fisik yang penuh keterbatasan dalam mengungkapkan makna. Adapun menurut tata cara yang lebih saya anggap benar dalam menyampaikan informasi adalah menggunakan kenyataan umum bahwa sesuatu hal akan dapat disampaikan secara sempurna hanya apabila orang lain yang sedang kita ajak berkomunikasi setidaknya pernah merasakan sensasi (pengalaman merasakan) tentang hal yang sama dengan apa yang kita alami. Sehingga pada akhirnya, bahasa fisik menjadi sebuah bentuk formalitas dari bahasa hati yang telah menyatu sebelumnya. Seperti halnya bahasa cinta, manusia mampu mengetahui tanpa harus mengatakannya. Adapun perkataan hanya berfungsi sebagai formalitas saja.
Kembali lagi ke klenik. Menurut apa yang saya alami, klenik adalah ungkapan bahasa melalui perbuatan yang pada esensinya disampaikan dari generasi ke generasi melalui bahasa hati. Namun akibat adanya keterbatasan intepretasi baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan batin dari para pendahulunya ke generasi setelahnya, maka bahasa hati untuk berkomunikasi dengan tuhan/sesuatu yang lebih besar daripada manusia tersebut berpotensi besar untuk berubah menjadi sesuatu hal yang bersifat dogmatis permanen akibat pemahaman mandiri tanpa penjelasan melalui bahasa hati. Saya percaya bahwa panggilan hati untuk meyakini sang pencipta sebenarnya ada dalam diri manusia sejak manusia terlahir ke dalam bumi, asalkan manusia bersedia untuk mengesampingkan imajinasi logika dan lebih memilih bahasa hati. Para pendahulu, dimana mereka hidup lebih prihatin daripada generasi setelahnya memiliki standar kemampuan batin untuk berkomunikasi dengan penciptanya/kekuatan diluar mereka. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat sejarah manusia bahwa tidak terdapat satupun koloni manusia yang tidak memiliki peninggalan bangunan/peralatan artifisial untuk memuja dan menghormati tuhan/sesuatu diluar manusia.
Akibat adanya perbedaan keprihatinan itulah maka muncul kapasitas batin yang makin menurun dari generasi ke generasi, dimana kemampuan tersebut semakin ditumpulkan dengan manusia yang saling berlomba-lomba dalam mengasah logika. Saya tidak akan mengatakan itu salah, hanya mungkin saja itulah takdir manusia saat ini. Sehingga akibat dikesampingkannya hati, manusia banyak yang stres karena keterbatasan akalnya dalam memahami fenomena dan tuntutan dunia.
Menurut pemahaman yang telah saya dapatkan hingga saat ini, klenik -dalam agama atau kepercayaan apapun- tidak harus berasosiasi dengan syirik. Kenapa? karena kita tidak pernah mengetahui isi hati dan niat seorang manusia. Dengan ilmu setinggi apapun, seorang manusia hanya akan mampu melihat dan mengetahui badan fisik, keadaan dan parameter-parameter fisis lain, namun tidak dengan isi hati. Bukankah tuhan yang berkehendak mutlak dalam mengatur benar dan salah, atau baik dan buruk? Yang salah adalah yang tidak memikirkan tuhan lebih jauh dan hanya mengikuti mekanisme klenik sesuai yang terlihat dengan pancaindera dan didefinisikan lebih lanjut menggunakan logika sebagai mesin pemroses dari informasi-informasi mengenai pengalaman hidup yang dia dapatkan sebelumnya. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mampu membaca pikiran orang lain, berpindah sukma ke tempat lain, bahkan ada yang mampu diberi anugerah mengetahui secara detail bagaimana masa lalu seseorang hanya dari berjabat tangan. Nama lengkapnya, ibunya, masa kecilnya, semuanya. Saya pernah bertemu dengan seseorang jenisu yang bisa mengkalkulasi dengan kecepatan supertinggi dan lain sebagainya. Namun yang saya pahami, tidak ada diantara mereka yang mampu menebak niat dan isi hati seseorang. Bahkan bagi si pembaca pikiran sekalipun. Dari situ saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa niat dan batin beserta semua gejolaknya adalah hak prerogatif dan privat bagi setiap jiwa. Manusia bisa merasakan 'adanya' kondisi batin tertentu dari seseorang dengan hati juga, namun tidak dengan 'bagaimana' dan 'sensasinya'. Bathin adalah hubungan langsung antara manusia dengan tuhan, yang hanya bisa ditularkan informasinya ke orang lain melalui bahasa batin pula. Itu pun tidak akan pernah mampu menggambarkan sensasinya.
Dari sinilah kesalahan pemindahan 'sensasi'/informasi terjadi dari generasi ke generasi. Ketika pemindahan informasi terjadi dari para generasi tua ke generasi muda, maka kenerasi muda yang kurang perihatin hanya akan mampu menangkap sedikit makna batin dari generasi tua, sehingga terjadilah penambahan yang dilakukan menggunakan ekstrapolasi dan interpolasi imajinasi logis. Sehingga selain dari prosedur yang semakin kacau maka terjadi pula entropi (kekacauan) dalam memahami. Timbullah dogma.
Logika vs. Kepercayaan
Agama apapun (aturan; kode; hukum; metode; ritual; klenik) pada dasarnya tidak pernah salah apabila tidak ditambah dengan imajinasi rasio serta kemampuan batin yang identik antar generasi ketika terjadi perguliran pemahaman. Hal ini disebabkan karena semua manusia memiliki bathin sebagai instrumen untuk mengenali tuhannya/kepercayaan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, sehingga secara otomatis manusia pasti mengenalinya melalui perwujudan niat dan pengendapan dalam bathin. Saya percaya bahwa seseorang yang telah berpikir dan berusaha keras untuk bertemu dengan tuhan/sesuatu yang lebih besar darinya telah mengambil tindakan yang baik dan benar terlepas dari takdir kepercayaan yang akan dipeluknya kelak. Semua manusia yang telah menempuh perjalanan mencari tuhan/sesuatu yang lebih besar darinya dengan sungguh-sungguh pasti akan mengalami sensasi yang identik dan akan mengerti tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata logis bahwa tuhan itu ada dalam persepsi komunal yang sama, sehingga klenik dan perbedaan agama merupakah hal yang lumrah dalam usaha mendekatkan diri ke sang pencipta. Adapun yang benar-benar salah menurut saya adalah seseorang yang hanya ikut-ikutan; tidak pernah berpikir serta mencari keuntungan dengan memanfaatkan efek chaos lingkungan menggunakan prinsip untung-untungan (coba-coba) dan hanya menggunakan pemahaman logis berdasar persepsi dirinya sendiri/komunitas lokal yang terisolir.
Logika
Nah, apa itu logika? menurut saya logika tidak lebih dari imajinasi rasio yang bertindak dengan nilai probabilistik dengan mekanisme abadi pengolahan sebuah informasi menjadi informasi lain yang tidak pernah akan diketahui hakekatnya. Saya sendiri sebagai seorang fisikawan ingin mengutarakan bahwa tindakan untuk menjustifikasi apa yang benar menurut alat ukur, kebiasaan dan pengalaman manusia sejak kecil adalah apa yang sesungguhnya terjadi merupakan sebuah kesalahan persepsi fundamental. Misalnya; apabila handphone anda digeser sampai ujung meja maka logikanya, handphone tersebut akan jatuh karena adanya interaksi gravitasi. Adapun bagi saya, akan lebih bijaksana apabila kita mengatakan bahwa handphone tersebut kemungkinan besar akan jatuh (dengan kondisi ceteris paribus; alias keadaan disekitar handphone terkendali dan kejadian tersebut dijalankan sesuai skenario umum). Kenapa kemungkinan besar? karena memang kenyataan yang saya temui mengindikasikan bahwa hukum-hukum fisika tidak pernah berlaku universal. Di daerah sulawesi, ada pembangunan mesjid yang mustoko (kepala mesjid)nya diangkat menggunakan do'a. Atau genting terbang di atap rumah yang sering ditemui warga gunung kidul, atau benda/seseorang yang melayang hanya berpijak kepasrahan total terhadap tuhan, sapu yang digantung bergerak-gerak sendiri, dan masih banyak sekali pengalaman empiris saya yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan logika hukum fisika. Dan hal tersebut tidak akan pernah dimengerti apabila seseorang hanya menggunakan logika dan belum pernah merasakan sensasinya. Walaupun kebenaran tidak terletak dalam sensasi empiris, namun bagaimanapun sepanjang perjalanan hidup yang telah saya tempuh, sensasi empiris baik fisik maupun batin merupakan sumber informasi yang lebih tinggi derajat kebenarannya daripada dilandaskan atas logika.
Logika hanya akan saling memakan. Mungkin di satu tempat dan waktu yang terisolasi, dogma logika menjadi kepercayaan umum yang dianggap universal. Hal itu tidak akan mampu dibantah, karena apabila dibantah (anti tesa) maka akan muncul sebuah sintesa baru yang menghasilkan tesa yang lebih tinggi. Akhirnya antara tesa dan antitesa hanya akan saling bekejar-kejaran secara abadi layaknya seekor anjing yang berputar-putar ingin menggigit ekornya. Seperti pula pertanyaan sederhana; duluan mana, ayam apa telur? atau manusia itu hasil evolusi atau diciptakan dari ketiadaan? kira-kira hanya mainan jebakan seperti itu yang akan kita dapatkan. Kadang malah muncul fenomena paradoks yang sering membuat batin tidak pernah tenang.
Agama adalah jalan, bukan tujuan.
Kepercayaan merupakan bentuk komunikasi yang terletak pada bathin setiap insan, sedangkan kebenaran (menurut definisi modern) adalah relasi imajinatif dari fakta empiris (kejadian nyata) yang didasarkan atas nilai-nilai logis, yang semuanya terletak dalam akal. Dalam kenyataan di masyarakat, sebanyak apapun fakta, apabila seseorang tidak pernah percaya ya tetaplah tidak percaya; demikian sebaliknya, apabila seseorang terlebih dahulu meyakini sesuatu, maka sesedikit apapun fakta pastilah akan diterima dengan hati seluas samudera. Sehingga bagi saya, percaya adalah lebih tinggi derajatnya daripada benar. Kepercayaan terhadap tuhan hanya bisa diidentifikasi menggunakan bahasa bathin, dan tidak mungkin ditemukan dalam bahasa logika, sehingga muncul perwujudan yang bermacam-macam dalam persepsi kepercayaan yang sama. Dan itulah yang paling baik dan benar. Lantas, seperti halnya mengidentifikasi mengenai keberadaan tuhan, logika digunakan setelah kita percaya, bukan sebaliknya. Logika adalah powerful tools apabila kita mampu menggunakannya dengan baik setelah kita mampu berdamai dengan hati. Dan dari situlah muncul agama. Agama adalah jalan logis (klenik) untuk menapak langkah kepercayaan dalam batin dan bukan tujuan akhir. Tuhanlah tujuan akhir seorang manusia. Sehingga, adalah sebuah perbuatan yang tidak baik dan tidak benar apabila seseorang/sebuah kelompok menjustifikasi kegiatan klenik dari seseorang/masyarakat dan menyatakan orang yang dipersepsikan memiliki pendapat berbeda dengannya adalah syirik dengan asumsi logika karena manusia tidak pernah mengetahui niat dan isi hati manusia lain.
Dari apa yang telah kita bahas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pencari tuhan itu berbeda dengan pencari kebenaran. Tuhan adalah kepercayaan. Dan untuk mengetahui jalan menuju tuhan (apapun agama anda, hanya kebetulan saja saya memilih islam), semua manusia membutuhkan guru. Bukan untuk menjustifikasi mana yang baik dan benar atau sebaliknya, namun untuk membimbing generasi setelahnya dalam merasakan sensasi yang sama (atau lebih tinggi) dalam menempuh jalan kepercayaan. Selebihnya, merupakan hak eksklusif seorang manusia untuk mengitepretasikan sensasi tersebut menjadi sesuatu yang baik dan benar atau jelek dan salah. Hanya tuhan yang lebih mengetahui apa itu benar dan salah. Siapa tahu, setelah seseorang merasakan sensasinya dalam menuju jalan kepercayaan, itu pun baru kulit karena ilmu yang diturunkan kepada manusia hanya seperti tetesan air yang dihadapkan dengan luasnya samudera, baik ilmu fisik maupun gaib. Tapi setidaknya manusia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengerti. Well, Who's know. Sisanya serahkan saja terhadap yang telah menyusun takdir untuk kita. Betul? :)
Hanglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli...
Pantun
Pantun Kasih
Nasi lemak buah bidara
sayang selasih hamba lurutkan;
Buang emak buang saudara
kerana kekasih hamba turutkan
Dua tiga kucing berlari
mana nak sama si kucing belang;
Dua tiga boleh kucari
mana nak sama dikau seorang
Tanam selasih di tengah padang
sudah bertangkai dihurung semut;
Kita kasih orang tak sayang
halai-balai tempurung hanyut
Anak beruk di kayu rendang
turun mandi ke dalam paya;
Hodoh buruk di mata orang
cantik manis di mata saya
Limau purut lebat di pangkal
sayang selasih condong di uratnya;
Angin ribut dapat ditangkal
hati kasih apa ubatnya
Nasi lemak buah bidara
sayang selasih saya lurutkan;
Buang emak buang saudara
kerana kasih saya turutkan
Sekali pergi menuba
sekali ikan merimbat;
Sekali adik disapa
setahun rindu terubat
Pantun Nasihat
Apa guna berkain batik
kalau tidak dengan sucinya;
Apa guna beristeri cantik
kalau tidak dengan budinya
Pulau Pandan jauh ke tengah
gunung Daik bercabang tiga;
Hancur badan dikandung tanah
budi baik dikenang jua
Siakap senohong
gelama ikan duri;
Bercakap bohong
lama-lama mencuri
Pisang emas dibawa belayar
masak sebiji di atas peti;
Hutang emas boleh dibayar
hutang budi dibawa mati
Tenang-tenang air di laut
sampan kolek mudik ke tanjung;
Hati terkenang mulut tersebut
budi baik rasa nak sanjung
Tingkap papan kayu bersegi
sampan sakat di Pulau Angsa;
Indah tampan kerana budi
tinggi bangsa kerana bahasa
Ada ubi
ada batas;
Ada budi
ada balas
Pantun Sindiran
Mengata dulang
paku terserepih;
Mengata orang
kamu yang lebih
Sudah gaharu
cendana pula;
Sudah tahu
bertanya pula
Puas sudah kutanam padi
nenas juga dimakan orang;
Puas sudah kutanam budi
emas juga dipandang orang
Buah langsat kuning mencelah
senduduk tidak berbunga lagi;
Sudah dapat gading bertuah
tanduk tidak berguna lagi
Pinggan tak retak
nasi tak dingin;
Engkau tak hendak
aku tak ingin
Pantun Pelbagai
Buah cempedak di luar pagar
ambil galah tolong jolokkan;
Saya budak baru belajar
kalau salah tolong tunjukkan
Kalau ada sumur di ladang
boleh kita menumpang mandi;
Kalau ada umur yang panjang
boleh kita berjumpa lagi
Kalau roboh Kota Melaka
papan di Jawa hamba dirikan;
Kalau sungguh bagai dikata
badan dan jiwa hamba serahkan
Chau Pandan anak Bubunya
hendak menyerang kota Melaka;
Ada cincin berisi bunga
Bunga berladung di air mata
Kalau ada jarum yang patah
jangan disimpan di dalam peti;
Kalau ada silap dan salah
jangan disimpan di dalam hati
Kalau subang sama subang
kalau sanggul sama sanggul;
Kalau hilang sama hilang
kalau timbul sama timbul
Pantun Berkait
Kupu-kupu terbang melintang
terbang di laut di hujung karang *
Hati di dalam menaruh bimbang
dari dahulu sampai sekarang *#
Terbang di laut di hujung karang *
burung nasur (nasar) terbang ke Bandan *#*
Dari dahulu sampai sekarang *#
banyak muda sudah kupandang *#*#
Burung nasur terbang ke Bandan *#*
bulunya lagi jatuh ke Patani *#*#*
Banyak muda sudah kupandang *#*#
tiada sama mudaku ini *#*#*#
Bulunya lagi jatuh ke Patani *#*#*
dua puluh anak merpati
Tiada sama mudaku ini *#*#*#
sungguh pandai memujuk hati
Sumber: http://wikisource.org/wiki/Pantun
Nasi lemak buah bidara
sayang selasih hamba lurutkan;
Buang emak buang saudara
kerana kekasih hamba turutkan
Dua tiga kucing berlari
mana nak sama si kucing belang;
Dua tiga boleh kucari
mana nak sama dikau seorang
Tanam selasih di tengah padang
sudah bertangkai dihurung semut;
Kita kasih orang tak sayang
halai-balai tempurung hanyut
Anak beruk di kayu rendang
turun mandi ke dalam paya;
Hodoh buruk di mata orang
cantik manis di mata saya
Limau purut lebat di pangkal
sayang selasih condong di uratnya;
Angin ribut dapat ditangkal
hati kasih apa ubatnya
Nasi lemak buah bidara
sayang selasih saya lurutkan;
Buang emak buang saudara
kerana kasih saya turutkan
Sekali pergi menuba
sekali ikan merimbat;
Sekali adik disapa
setahun rindu terubat
Pantun Nasihat
Apa guna berkain batik
kalau tidak dengan sucinya;
Apa guna beristeri cantik
kalau tidak dengan budinya
Pulau Pandan jauh ke tengah
gunung Daik bercabang tiga;
Hancur badan dikandung tanah
budi baik dikenang jua
Siakap senohong
gelama ikan duri;
Bercakap bohong
lama-lama mencuri
Pisang emas dibawa belayar
masak sebiji di atas peti;
Hutang emas boleh dibayar
hutang budi dibawa mati
Tenang-tenang air di laut
sampan kolek mudik ke tanjung;
Hati terkenang mulut tersebut
budi baik rasa nak sanjung
Tingkap papan kayu bersegi
sampan sakat di Pulau Angsa;
Indah tampan kerana budi
tinggi bangsa kerana bahasa
Ada ubi
ada batas;
Ada budi
ada balas
Pantun Sindiran
Mengata dulang
paku terserepih;
Mengata orang
kamu yang lebih
Sudah gaharu
cendana pula;
Sudah tahu
bertanya pula
Puas sudah kutanam padi
nenas juga dimakan orang;
Puas sudah kutanam budi
emas juga dipandang orang
Buah langsat kuning mencelah
senduduk tidak berbunga lagi;
Sudah dapat gading bertuah
tanduk tidak berguna lagi
Pinggan tak retak
nasi tak dingin;
Engkau tak hendak
aku tak ingin
Pantun Pelbagai
Buah cempedak di luar pagar
ambil galah tolong jolokkan;
Saya budak baru belajar
kalau salah tolong tunjukkan
Kalau ada sumur di ladang
boleh kita menumpang mandi;
Kalau ada umur yang panjang
boleh kita berjumpa lagi
Kalau roboh Kota Melaka
papan di Jawa hamba dirikan;
Kalau sungguh bagai dikata
badan dan jiwa hamba serahkan
Chau Pandan anak Bubunya
hendak menyerang kota Melaka;
Ada cincin berisi bunga
Bunga berladung di air mata
Kalau ada jarum yang patah
jangan disimpan di dalam peti;
Kalau ada silap dan salah
jangan disimpan di dalam hati
Kalau subang sama subang
kalau sanggul sama sanggul;
Kalau hilang sama hilang
kalau timbul sama timbul
Pantun Berkait
Kupu-kupu terbang melintang
terbang di laut di hujung karang *
Hati di dalam menaruh bimbang
dari dahulu sampai sekarang *#
Terbang di laut di hujung karang *
burung nasur (nasar) terbang ke Bandan *#*
Dari dahulu sampai sekarang *#
banyak muda sudah kupandang *#*#
Burung nasur terbang ke Bandan *#*
bulunya lagi jatuh ke Patani *#*#*
Banyak muda sudah kupandang *#*#
tiada sama mudaku ini *#*#*#
Bulunya lagi jatuh ke Patani *#*#*
dua puluh anak merpati
Tiada sama mudaku ini *#*#*#
sungguh pandai memujuk hati
Sumber: http://wikisource.org/wiki/Pantun
Langganan:
Komentar (Atom)